El Nino Ancam Gagal Panen, Ahli Ekonomi Unair Ingatkan Mitigasi & Strategi Ini

Jakarta – 

Fenomena El Nino menjadi sorotan atas akibatnya pada penurunan potensi hujan. Ahli ekonomi asal Universitas Airlangga (Unair), Prof Dr Muryani SE M Si MEMD mengatakan, kondisi ini memicu tingginya risiko gagal panen.

Prof Muryani menjelaskan, fenomena El Nino adalah salah satu pola iklim alami periodik yang memengaruhi suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah. El Nino ditandai dengan pemanasan suhu muka laut yang abnormal. Akibatnya, suhu air di wilayah tersebut menjadi lebih tinggi dari suhu normalnya.

Baca juga:Pemanasan Global Membuat Guncangan di Laut, Peneliti: Manusia Dapat Peringatan
Baca juga:4 Imbas Kemarau Kering RI, BMKG Imbau untuk Mitigasi dan Antisipasi

Ketergantungan pada Impor

Lebih lanjut, pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tengah mengurangi pertumbuhan awan di wilayah Indonesia. Inilah yang menyebabkan potensi hujan menurun dan risiko gagal panen kian tinggi. Karenanya, El Nino turut mengancam ekonomi dan kesejahteraan warga di Indonesia.

“Potensi hujan juga jauh berkurang, dan risiko gagal panen menjadi nyata. Banyak petani mengalami kegagalan panen, memicu kenaikan harga pangan dan ketergantungan pada impor, terutama beras,” kata Muryani.

Ia menambahkan, El Nino juga berdampak pada sektor pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, hingga produk olahan. Sebab, naiknya suhu air laut menyebabkan kekeringan dan mengurangi pasokan air untuk pertanian dan peternakan. Sedangkan sektor perikanan mengalami penurunan produksi karena pola pertumbuhan ikan menjadi abnormal.

Mitigasi Gagal Panen akibat El Nino

Menurut Muryani, teknologi hujan buatan perlu dikembangkan menajdi solusi kekeringan akibat El Nino. Lalu, gunakan langkah strategis dengan mendorong penerapan konservasi hutan. Cara ini menurutnya penting untuk mempertahankan tutupan hijau dan cadangan air tanah yang kritis.

Kemudian, sambungnya, pemerintah perlu menerapkan aturan tata ruang yang ketat secara serius. Langkah ini bertujuan menjaga keseimbangan antara pembangunan dan keberlanjutan lingkungan. Muryani menjelaskan, kontrol ketat terhadap perluasan lahan pemukiman penting untuk mencegah turunnya tutupan hijau secara signifikan.

Strategi Hadapi Perubahan Iklim

Di sisi lain, Muryani menilai pengelolaan sektor jasa dan wisata yang ramah lingkungan dapat menjadi alternatif investasi jangka panjang. Untuk itu, sektor tersebut perlu dipromosikan lebih lanjut sebagai sumber pendapatan berkelanjutan.

Ia menjelaskan, pengembangan pariwisata berbasis konservasi memungkinkan negara melestarikan lingkungan sambil meraup keuntungan ekonomi.

“Fokus investasi pada sektor jasa dapat menjadi langkah strategis dalam menghadapi perubahan iklim dan mengurangi dampak negatifnya,”


Posted

in

by

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *