Memancing di Atas Bukit

Sore hari setelah solat ashar, Pade dan Bocil berangkat ke atas bukit dekat rumah. Perlengkapan yang dibawa adalah ember, dua pancingan dan umpannya. Selain itu. tak lupa juga membawa pembekalan seperti satu gelas kopi untuk Pade dan satu gelas susu untuk Bocil, yang sudah disediakan sama si cinta.

Bocil menawarkan diri untuk membawa ember, dua pancingan beserta umpannya. Sementara sisanya Pade yang bawa. Bocil terlihat antusias karena dirinya seharian ini belum bermain ke luar rumah. Teman bermainnya sedang tak ada di rumah. Mungkin sedang ada acara keluarganya. Di tengah perjalanan, Bocil meminta istirahat dulu. 

“Yah, istirahat dulu sebentar ya!” 

Pade pun mengiyakannya sambil duduk istirahat sejenak dan menyeruput sedikit air kopi. Sementara Bocil pun tak mau ketinggalan untuk ikutan dengan menyeruput sedikit air susu yang telah disediakan bundanya. Nikmatnya luar biasa. Berteduh di bawah pohon, ditemani segelas kopi sambil punggung dikipasin oleh dedaunan. Sungguh udara yang sejuk sekali.

Tak lama kemudian, Bocil pun bangkit kembali dan mengajak untuk melanjutkan perjalanannya. Kami berdua sangat senang. Tak terasa, sampailah kami ke atas bukit. Disana ada beberapa kolam ikan. Lebih tepatnya adalah 4 kolam ikan terpal khusus untuk pembesaran ikan nila. Namun semenjak adik Pade diangkat menjadi pegawai yang lokasinya sangat jauh. Kolam ikan itu tak terurus sebagaimana biasanya. Ikannya hanya dimanfaatkan sebagai konsumsi pribadi, tak difokuskan untuk bisnis lagi. Alasannya ya selain waktu untuk mengurusnya, harga pakannya yang mahal untuk saat ini.


Posted

in

by

Tags:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *